Goa Gong – Tripartite Attraction Concept

Goa Gong, harga tiket masuk Goa Gong, Wisata Pacitan, Wisata Jawa Timur,

Pacitan Trip ke Pacitan yang dilakukan tahun 2019 lalu tentu masih meninggalkan kesan yang masih membekas di benak. Bagaimana tidak? Keindahan alam Pacitan masih selalu menghampiri pikiran, seakan melarang langkahkakisijojo untuk kembali pulang saat itu.

Memang terbilang cukup singkat perjalanan kala itu, hanya 4 hari 3 malam. Tapi sukses menyambangi daya tarik wisata yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Pacitan. Ada Sungai Maron, Pantai Kayar, Pantai Banyo Tibo, Pantai Watukarung, Kali Cokel, Pantai Srau, Pantai Buyutan, dan juga Goa Gong.

Goa Gong

Ada pengalaman menarik saat berwisata ke Goa Gong, dimana pada saat itu adalah tanggalan merah dan banyak sekali orang yang berkunjung kesana. Ramai dan padat, tidak hanya di dalam gua saja namun di luar gua pun banyak kerumunan orang.  

Sebenarnya, jalur untuk wisatawan di kawasan Goa Gong ini sudah cukup nyaman dengan one way in dan one way out. Dalam artian arah jalan saat kita masuk berbeda dengan arah jalan keluarnya, sehingga tidak akan terjadi tabrakan dengan wisatawan yang masuk dan wisatawan yang keluar. Hal ini diterapkan baik di dalam goa maupun di luar goa.

Baca Juga: Konsep Pengembangan Bukchon Hanok Village

Namun, bila diperhatikan penerapan ‘visitor management dan ‘carrying capacity Goa Gong perlu dan masih bisa lebih di optimalkan lagi. Bagaimana?   Dalam mengembangkan sustu daya tarik wisata, perlunya mempertimbangkan tiga zona spatial. Apa itu?

Nah, mengutip dari buku Vacationscape karangan Clare A. Gunn tiga zona spatial tersebut dinamakan dengan Tripartite Attraction Concept yang terbagi kedalam tiga zona.  

Tripartite Attraction Concept

1. Nucleus/Zona Inti

adalah zona dimana daya tarik wisata itu berada. Menjadi pusat utama dari sebuah daya tarik wisata.

2. Inviolate Belt/Zona Penyanggah

adalah zona yang menghubungkan zona inti dan public zone ‘bridging’. Berguna untuk menjaga citra dari daya tarik wisata itu sendiri, dan juga kenyamanan wisatawan. Dapat difungsikan juga untuk menciptakan pengenalan dari zona inti kepada wisatawan.  

3. Zone of Closure/Zona Fasilitas

adalah zona dimana fasilitas-fasilitas pendukung wisata berada. Seperti toko souvenir, restoran, TIC, dan lain sebagainya.

Bila dicermati pelaksanaan kegiatan wisata di Goa Gong sudah menerapkan Tripartite Attraction Concept, dilihat dari area pintu masuk dari mulai parkiran, lalu ke area fasilitas wisata seperti toko souvenir, tempat makan, toilet, TIC, dan lain sebagainya, baru dilanjutkan dengan menaiki anak tangga dengan pemandangan kanan kiri yang menarik sebagai zona penyanggah nya sebelum mencapai zona inti yaitu goa nya itu sendiri. Dan puncaknya adalah zona inti masuk ke dalam Goa Gong. 

Saat keluarnya pun kita diarahkan oleh jalan keluar yang berbeda dari arah jalan kita masuk tadi. Di sepanjang jalan keluar kita disuguhkan dengan toko souvenir, pasar batu akik, yang berujung pada tempat parkir saat kita mulai masuk tadi. Di dalam goa sendiri juga sudah ada laring yang memisahkan jalur masuk dan jalur keluar wisatawan sehingga tidak terjadi benturan arus wisatawan masuk dan keluar. 

Video nya: Langkah Kaki Si Jojo – Goa Gong

Namun, konsep ini belum berjalan dengan optimal, dilihat dari masih banyaknya kerumunan wisatawan yang mengantri masuk gua, jasa penyewaan senter yang bertebaran di area mulut gua, dan hal-hal tersbut tentu menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan.  

Selain itu juga perlu diingat bahwa Goa Gong merupakan nature-based tourism yaitu wisata yang memanfaatkan alam sebagai daya tarik utamanya. Maka dari itu perlu kita memperhatikan carrying capacity -nya.

Menyikapi hal ini, langkahkakisijojo mencoba untuk memberikan masukan dan saran terkait carrying capacity seperti:

1. Pembatasan jumlah pengunjung yang masuk ke dalam Goa (Sistem buka tutup) Jadi dalam sekali masuk rombongan yang bisa ikut dibatasi, misalnya 20 orang per sekali masuk dan di jeda 5 menit, nanti di mulut goa di cegah oleh petugas, setelah selang waktu yang ditentukan, baru rombongan berikutnya 20 orang lagi masuk, begitu seterusnya.

2. Pengoptimalan Inviolate Belt/Zona Penyanggah  Sebagaimana fungsinya menyanggah zona inti, memberikan pengenalan kepada pengunjung, dan membangun citra dan vibes sebelum mencapai zona inti, zona penyanggah ini dioptmalkan dalam ‘menghambat’ laju atau frekuensi wisatawan.

Sehingga tidak terjadi penumpukkan atau antrian wisatawan di mulut goa, karena wisatawan dapat menghabiskan waktu sedikit lebih lama di zona penyanggah sebelum sampai ke mulut goa. Caranya bisa dengan menyediakan tempat berfoto, informasi-informasi mengenai Goa Gong, dan lain sebainya.

Recommended Articles

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *